Sejarah Desa Sewulan - .

Breaking

Cari Berita

Kamis, Januari 26, 2017

Sejarah Desa Sewulan

KEPALA DESA SEWULAN
aenews9.com, Madiun - Desa Sewulan Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun adalah salah satu desa perdikan pada jaman dahulu.
  
Desa Sewulan juga menyimpan situs sejarah cagar budaya peninggalan Kerajaan Mataram yang masih terjaga dan terawat hingga kini, yaitu Masjid Agung KI AGENG BASYARIYAH.
  
Sejarah berdirinya Desa sewulan itu juga tidak bisa dipisahkan dengan sejarah ketokohan  KYAI AGENG BESARI, Tegal Sari Ponorogo.
   
Menurut Kepala Desa Sewulan, Soekarno, "sejarah Desa Sewulan ini tidak bisa dipisahkan  dengan kebesaran nama KYAI AGENG BESARI Tegalsari Ponorogo dan KYAI AGENG BASYARIYAH. Banyak orang hanya mengenal KYAI AGENG BASARIYAH sebagai pendiri Masjid dan Desa Sewulan.
  
Orang jarang mengetahui nama kecilnya yang di ketahui hanya KYAI AGENG BASARIYAH. Bagus Harun adalah nama beliau, putra dari Adipati Ponorogo, BOGEL KOSAMBI, beliau mempunyai kakak bernama KYAI NURSALIM (Mbah Mantub) yang tak lain adalah mertua dari KYAI AGENG BESARI, dan menjadi guru dari Raden Mas Bagus Harun sendiri.
  
Raden Mas Bagus Harun menimba ilmu di pesantren milik Kyai Ageng Besari Tegalsari Ponorogo.
  
GERBANG SEWULAN
Pada masa itu awal Tahun 1741 terjadi pemberontakan Raden Mas Gerendi ( Sunan Kuning) Pangeran cucu Amangkurat III yang diangkat oleh komunitas Tionghoa yang dipimpin Tai Wan Sui, merebut Keraton Kartasura (geger Pacianan). Pakubuwono II Raja Keraton Kartasura melarikan diri ke Ponorogo berlindung di pesantren Kyai Ageng Besari sekaligus meminta pertolongan dari sang Kyai.
 
Kyai Ageng Besari mengutus murid kinasihnya, Raden Bagus Harun berangkat ke Kartosuro untuk berperang merebut kembali keraton, berkat pertolongan Allah SWT Raden Bagus Harun berhasil mengemban tugas dari sang Guru Kyai Ageng Besari.
 
Setelah Keraton aman Sinuhun Pakubuwono II kembali ke kartosuro, namun keadaan keraton sudah hancur lebur maka keraton di pindah ke daerah Sala (Surokarto).
  
Sekembalinya Sinuhun Pakubuwono II dari Ponorogo, beliau menganugerahi pangkat kepada Raden Bagus Harun, karena Biwara Bhaktinya. Sinuhun mengetahui silsilah Bagus Harun masih keturunan Sutowijoyo, namun Bagus Harun menolak dengan halus karena dia ke keraton mengemban tugas dari gurunya Kyai Ageng Besari.

Sinuhun pun akhirnya menganugerahi pusaka keraton SONGSONG / PAYUNG TUNGGUL NOGO kepada Bagus Harun (perlu di ketahui payung disini bukan payung yang biasa di jual di pasar, namun songsong / payung kerajaan sebagai identitas pemerintahan, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pemberian tanah perdikan, sebagai tanah pemberian raja). Bagus Harun pun kembali ke Tegalsari Ponorogo untuk menghadap kepada gurunya. Pusaka pemberian dari Sinuhun PB II diaturkan kepada gurunya, namun gurunya menolak karena merasa tidak berhak. Dan Bagus Harun lah yang berhak, karena dia yang memadamkan pemberontakan Sunan Kuning.
 
GAPURA MAKAM
Raden Bagus Harun juga enggan menerima pusaka tersebut, karena menurutnya yang berhak adalah gurunya. Akhirnya Kyai Ageng Besari menyuruh Bagus Harun untuk membuang Songsong / Payung Tunggul Nogo tersebut di jembatan Sekayu (sungai besar sebelum masuk Ponorogo) dan konon pusaka tersebut berhenti di Kedung Bang Pluwang, Nglengkong, Sukorejo, Ponorogo.
 
Kemudian Bagus Harun di perintah oleh Kyai Ageng Hasan Besari untuk berjalan menuju utara mengembangkan syiar Islam tidak boleh berhenti sebelum 1000+ (sewu dan lan). Terdapat banyak versi mengenai asal usul nama SEWULAN itu sendiri, ada yang mengatakan sewu wulan (seribu bulan), ada yang mengatakan seribu hari lebih sedikit atau sekitar 2,5 tahun, ada juga yang mengatakan Raden Bagus Harun di beri KEKANCINGAN oleh Pakubuwono II berupa tanah 1000 wuwul / Ha untuk ditempati di jadikan Desa untuk selama-lamanya, di bebaskan dari segala pajak nagari untuk selama-lamanya dan di bebaskan mengatur Desanya dengan menurut hukum yang diterapkan.
 
Pada tahun 1742 Desa Perdikan Sewulan berdiri dengan dipimpin oleh Bagus Harun (Kyai Ageng Basyariyah) beserta keturunannya, dan didirikanlah masjid dan pondok oleh Kyai Ageng Basariyah.

Pembangunan Masjid Agung Sewulan di kerjakan langsung oleh beliau Kyai Ageng Basyariyah dan menantu beliau, (R.Mas Muh Santri / Temenggung Alap-Alap Kuncen, Caruban, Madiun). Sebelum membangun masjid tersebut Kyai Ageng menghendaki posisi bangunan agak keselatan dari pengimamam dengan harapan kelak anak cucu beliau menjadi orang alim dan soleh. Sedang menantunya (R.Muh.Santri) menghendaki letak pengimaman sebelah utara dengan harapan kelak anak cucunya menjadi orang yang terhormat / umaro. Akhirnya terjadi kesepakatan pengimaman masjid berada di tengah seperti yang ada sekarang ini, dengan harapan kelak anak cucunya selain menjadi Ulama juga Umaro.
 
Seperti halnya Presiden Republik Indonesia ke -4 KH.Abdurrahman Wahid (gusdur) dan mantan menteri Agama RI Maftuh Basyuni juga tercatat sebagai keturunan KYai Ageng Basyariyah.
 
MAKAM EYANG BASYARIYAH
Makam Kyai Ageng Basyariyah berada di kompleks Makam Sewulan di belakang Masjid Agung Sewulan, tepatnya di cungkup utama. Makam beliau di apit oleh putrinya (Nyai Muhammad Santri) dan menantunya (Kyai Muhammad Santri). Ketiga makam tersebut di naungi kain warna hijau. Tepat di depan Makam Kyai Ageng Basyariyah terdapat songsong tiga tingkat (songsong tunggul nogo), songsong ini di hiasi dengan sepasang naga di bawahnya.
 
Masih menurut Kepala Desa Sewulan, ciri lain dari Desa Sewulan adalah dulu banyak pengrajin kerajinan dari besi, yang pendirinya Nitikromo dari Jogjakarta dan Nuryo, barang yang di hasilkan adalah alat-alat pertanian. Di Sewulan ini dulu juga hidup seorang Empu bernama Mohammad Slamet keturunan Empu Suro, terangnya.

Kepala Desa Sewulan mengungkapkan, Pimpinan Kepala Desa Perdikan Sewulan hingga tahun 1963 sebagai berikut : (1) R.Mas Bagus Harun (kyai Ageng Basyariyah / Ki Ageng Sewulan I), (2) R.Mas Maklum Ulama, (3) R.Mas Mustaram I, (4) R.Mas Mustaram II,  (5)R.Mas Rawan, (6)R.Wiryo Ulomo, (7)R.Mas Ichwan Ali (Kyai Ageng Sewulan VII).

Setelah Tahun 1963, semua Desa Perdikan di Indonesia dihapus dan diganti menjadi Desa Swasembada termasuk Sewulan. Sejak menjadi Desa Swasembada, Sewulan memiliki kepemimpinan yang di pilih oleh rakyat. Adapun Kepala Desa yang pernah menjabat di Desa Sewulan adalah (1) Hardjomoen, (2) Badjoeri, (3) Maulana, (4) Moch.Syamsuri, (5) Khoirul Umur, (6) Moh.Agus Alim, (7) H.Sukarno (menjabat sekarang)

Masih ungkapnya, "tahun 2004 melalui Pemerintah Daerah Kabupaten Madiun menetapkan Situs Perdikan Sewulan menjadi cagar budaya situs Islam tertua di Madiun.

Namun sangat di sayangkan pihak Pemkab Madiun kurang mendukung serta memperhatikan untuk pengembangkan Keberadaan Situs Sewulan.

Harapannya tidak hanya nama situs Basyariyah atau Desa Sewulan yang terangkat namun perekonomian Masyarakat Sewulan khususnya, padahal di lokasi situs Sewulan telah menjadi agenda rutin Tahunan antara lain Jamas Pusoko di bulan Syuro dan Grebek Maulid.(in)