Mencari Capres Alternatif 2024 Dari Moeldoko,Ganjar Pranowo,Airlangga Hartarto,Puan Maharani,Prabowo,AHY, Hingga Anies Baswedan Dan Ridwan Kamil - .

Breaking

Cari Berita

Selasa, Juni 08, 2021

Mencari Capres Alternatif 2024 Dari Moeldoko,Ganjar Pranowo,Airlangga Hartarto,Puan Maharani,Prabowo,AHY, Hingga Anies Baswedan Dan Ridwan Kamil


AENEWS9.COM
|| Jakarta - Terdapat banyak lembaga survei yang telah merilis hasil surveinya mengenai Calon-calon Presiden R.I 2024, namun anehnya masing-masing lembaga survei antara satu dengan yang lainnya berbeda jauh mengenai popularitas dan elektabilitasnya terhadap sosok atau figur yang dimunculkannya. Kadang yang teratas diduduki oleh Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dll., namun kadang pula tiba-tiba lembaga survei lainnya mendadak berubah, yakni Anies Baswedan di posisi teratas, kemudian Agus Harimurti Yudhoyono, Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dll. Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa survei-survei itu sepertinya tidak objektif, tidak akurat, tidak kredibel, dan terkesan sesuai kepentingannya sendiri-sendiri.


Meskipun demikian saya melihat ada beberapa point penting mengenai klasifikasi masing-masing figur yang akan muncul di pertarungan Pilpres 2024 mendatang ditinjau dari sisi ideologinya. Dan baru setelah itu saya akan mencoba mengelompokkan figur-figur tersebut dalam kecenderungan karakter dari kelompoknya masing-masing. Pertama bisa saya golongkan sebagai kelompok Nasionalis Religius, yang kedua kelompok Nasionalis Abangan, dan yang ketiga kelompok Islam Politik. Di bagian kelompok Nasionalis Religius ini ada sejumlah nama yang berbanding lurus dengan model atau karakter Presiden Jokowi, yakni Moeldoko, Ganjar Pranowo dan Airlangga Hartarto. Untuk kelompok Islam Abangan ada figur seperti Prabowo, Agus Harimurti Yudhoyono dan Puan Maharani, sedangkan untuk kelompok Islam Politik ada figur seperti Anies Baswedan dan Ridwan Kamil.


Nasionalis Religius adalah sebuah ideologi politik yang berciri khas memadukan antara unsur-unsur nasionalisme dan keagamaan. Nasionalisme Abangan adalah ideologi politik yang memadukan antara unsur-unsur nasionalisme dan kepercayaan, sedangkan Islam Politik adalah ideologi politik yang menjadikan agama sebagai jargon atau kamuflase untuk meraih kepentingan politiknya. Dari pengelompokan ideologi dan figur-figur politik yang tergolong di dalamnya itu, kita bisa menarik kesimpulan akan adanya tiga kekuatan besar yang akan bertarung di Pilpres 2024 kelak. Yang menjadi persoalan kemudian, bagaimana dengan kans para figur tersebut untuk memenangkan pertarungan di Pilpres 2024. Mari kita telaah satu persatu:


1. Moeldoko: Beliau ini merupakan figur dari kalangan militer namun sangat berjiwa sipil dan nyantri. Meskipun beliau seorang mantan Panglima TNI namun beliau sekarang menduduki jabatan dan ketua-ketua di organisasi kemasyarakatan. Selain menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) R.I, beliau juga menjadi Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan beberapa Ormas lainnya. Selain itu Moeldoko juga pernah mendirikan Masjid di Jombang, dan sangat dekat dengan para Ulama dan tokoh agama lainnya. Meskipun demikian, Moeldoko nyaris tidak pernah mempolitisasi agama untuk kepentingan politiknya, bahkan semua orang tau beliau merupakan figur pejabat publik yang selalu terdepan melawan radikalisme di Indonesia ini. Kekurangan yang dimiliki oleh Moeldoko sampai saat ini hanyalah belum mantabnya posisi beliau di partai politik, akan tetapi jika nantinya Partai Demokrat hasil KLB Deli Serdang dimenangkannya, haqul yakin beliau akan menjadi figur sentral Capres R.I 2024. Bagaimana jika kemudian Partai Demokrat KLB nantinya kalah? Tidak masalah, masih banyak parpol besar lainnya yang tidak memiliki figur populer dan memiliki kemampuan leadership setangguh Moeldoko, karena itu kelak Moeldoko akan dipinang oleh Parpol-Parpol lainnya untuk menjadi Capres 2024.


2. Ganjar Pranowo: Selain menjadi Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo dikenal sebagai aktivis Marhaenis. Karena itu, masyarakat pecinta Bung Karno kelak akan memberikan dukungan penuh untuk Ganjar Pranowo. Selain itu Ganjar Pranowo di Jateng terlihat sangat mesra sekali dengan warga Nahdliyin, dengan demikian, selain mendapatkan dukungan dari kelompok Nasionalis, Ganjar juga akan banyak mendapatkan dukungan dari kelompok santri. Namun sayangnya seperti halnya Moeldoko, posisi Ganjar Pranowo di Partai Politik juga belum benar-benar mantab, karena di internal PDIP masih ada tokoh lain yang akan diusung jadi Capres atau Cawapres yakni Puan Maharani.


3. Airlangga Hartarto: Beliau selain memimpin Golkar, juga dikenal aktif mereformasi sistem kepartaian. Karena itu bisa kita lihat, ketika partai-partai lain sibuk mencari figur untuk Capres dari kalangan partainya, Golkar fokus membangun sistem partainya sendiri, hingga Golkar nampak lebih modern dari partai-partai lainnya. Sayangnya, untuk kondisi Indonesia hal tersebut belum bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia, olehnya Golkar kalah cepat dibanding Gerindra yang banyak menjual figur, namun setidaknya ini masih dalam konteks untuk Indonesia kontemporer. Kalau untuk Indonesia paska 2024, mungkin partai yang fokus memperbaiki sistem seperti Golkarlah yang akan memimpin. Oleh karena itu satu-satunya yang akan menjadi andalan kemenangan Airlangga Hartarto kedepan hanyalah kinerja mesin partai Golkar sendiri, kecuali jika Airlangga Hartarto berkoalisi dengan Moeldoko yang akan banyak didukung oleh kelompok-kelompok mantan Relawan Jokowi-MA dan Ormas lintas agama, atau Ganjar Pranowo yang akan banyak didukung oleh kelompok Soekarnois dan Islam Nasionalis.


4. Prabowo: Selain menjadi Menhan, Prabowo juga konon disukai oleh banyak purnawirawan TNI. Namun sayangnya Prabowo yang bolak-balik nyapres dari Pemilu ke Pemilu dan selalu kalah ini akan membuat para pendukungnya bosan. Selain itu dengan masuknya Prabowo ke lingkaran Kabinet Indonesia Maju yang berarti telah berkoalisi dengan musuh bebuyutan politiknya, yakni Jokowi, maka menjadikan para pendukung Prabowo telah menyebrang ke Anies Baswedan. Olehnya, jika Prabowo kembali maju nyapres di 2024, bakal dipastikan banyak kehilangan suara.


5. AHY: Selain praktis hanya mengandalkan ketokohan ayahnya (SBY) yang pernah menjabat sebagai Presiden RI dua periode, AHY juga pernah kalah dalam pertarungan politik di tingkat lokal (PILKADA DKI Jakarta 2017). Oleh karena itu sangat susah sekali untuk mendongkrak AHY agar menang di Pilpres 2024. Meskipun demikian, AHY ini cukup beruntung, bahwa setelah Jokowi tak bisa lagi mencalonkan sebagai Capres 2024, masyarakat Indonesia hanya mengenal sedikit nama tokoh politisi populer selain Prabowo yang dikenal dengan Capres gagal. Akan tetapi karena banyaknya elit politik yang sudah trauma dengan karakter SBY dan Partai Demokratnya yang tak pernah setia jika diajak koalisi, maka AHY di PEMILU 2024 hanya akan menjadi figur yang untuk rame-remean Pemilu saja, dalam artian AHY hanya akan menjadi Capres figuran 2024 belaka dan ia tak akan pernah jadi Capres yang lolos verifikasi KPU.


6. Puan Maharani: Selain menjadi Ketua DPR R.I Puan merupakan anak kesayangan Megawati yang sangat dikenal oleh masyarakat, baik di tingkat elit, kelas menengah maupun bawah. Berkat ibunya yang memimpin PDIP, Puan pasti akan memiliki keunggulan lobi struktural. Sayangnya, Puan terlanjur terjebak bermain api dengan Ganjar Pranowo, akibatnya kekuatan struktural dan kultural PDIP atau kaum Nasionalis akan terpecah, dimana kelompok struktural akan berada di pihak Puan Maharani sedangkan kelompok kulturalnya akan berada di pihak Ganjar Pranowo. Maka kalau Puan mau maju jadi Capres 2024, pasti akan melakukan kalkulasi politik terlebih dahulu. Jika sudah terlihat peta politik sesungguhnya, maka Puan nantinya akan menyerah dan mempersilahkan Ganjar Pranowo yang maju jadi Capres 2024 atau sebaliknya.


7. Anies Baswedan: Gubernur DKI Jakarta ini memang sangat terkenal tangkas bersilat lidah, juga sangat mahir memprovokasi massa yang dimabok agama. Karena itu semua lawan-lawan politik Anies tidak ada yang meragukan kans Anies untuk maju di Pilpres 2024. PKS pasti sudah memesan duluan untuk menjagokan Anies di Pilpres 2024, bahkan NASDEM pun sepertinya sudah lama menjajaki untuk menjagokan Anies. Namun setau saya sejarah di Indonesia ini belum pernah menunjukkan kemenangan kelompok Islam Politik yang sekarang direpresentasikan melalui figur Anies, setiap pertarungan dari Pemilu ke Pemilu Nasional selalu dimenangkan oleh kelompok Nasionalis yang berkoalisi dengan kelompok Religius (NU). Oleh karena itu berat sekali bagi Anies untuk menang di Pilpres 2024, kecuali kelompok Nasionalis Religius di negeri ini sudah tertidur pulas dan tak pernah terjaga untuk menghadang kelompok-kelompok radikal.


8. Ridwan Kamil (RK): Selain menjadi Gubernur Jawa Barat, RK merupakan figur politik yang suka main kiri-kanan. Ideologi politiknya yang sangat labil ini untuk jangka pendek memang terbukti sangat manjur hingga RK pernah menang dalam pertarungan Pilkada Bandung dan di Pilkada Jabar. Namun masyarakat Indonesia nampaknya semakin lama semakin faham dengan prilaku RK yang berideologi Nano-Nano ini. Pagi idealis sore kompromis, musim hujan Soekarnois musim kemarau Riziekis, sangat labil sekali. Meski demikian semua politisi akan mencatat mengenai pundi suara pemilih Jawa Barat yang terbesar di Indonesia, oleh karena itu baik buruknya RK akan tetap menjadi pertimbangan para Capres 2024 untuk menjadi pendampingnya (sebagai Cawapres).


Peta Politik PILPRES 2024 bersama semua plus minus masing-masing figur sudah saya kemukakan tanpa adanya motif kepentingan apa-apa selain keinginan untuk terwujudnya Kejayaan Negara Republik Indonesia. Pilihan sepenuhnya saya serahkan pada pembaca. Demikian. Wallahu a'lamu bissawab…(SHE).


Sumber : Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Pemerhati Politik. 7/6/2021.


Win69ppwi/Red